Jumat, 09 Januari 2009

THE ROLE OF PSYCHOLOGY RELATED WITH THE INNNOVATIF TEACHING LEARNING PROCCESS OF MATHEMATICS

Matematika sebagai ilmu pasti membuatnya sulit dipelajari siswa. Perlu pemahaman yang mendalam tentang konsep yang sedang dipelajari. Disamping itu juga dibutuhan motivasi yang tinggi pada siswa untuk mempelajari matematika. Martin Handoko dalam bukunya Motivasi Daya Penggerak Tingkah Laku menyebutkan semakin kuat motivasi seseorang semakin kuat pula usaha untuk mencapai tujuan. Semakin seseorang mengetahui tujuan yang akan dicapai apalagi kalau tujuan tersebut dianggap penting maka semakin kuat pula usaha untuk mencapainya. Dengan adanya motivasi serta tujuan yang jelas untuk mempelajari matematika maka usaha yang dikeluarkan untuk mencapai tujuan tersebut akan semakin besar sehingga pemahaman konsep pun dapat terlaksana.
Disamping motivasi, seorang guru juga harus mampu berinteraksi dengan murid agar murid merasa ”enjoy” dalam mengikuti pembelajaran dan proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik.
Guru juga perlu mengetahui gejala jiwa siswa sehingga dia tahu kapan dan mengapa seorang siswa itu merasa senang, bosan, antusias, takut, marah, sedih dan sebagainya. Dengan mempelajari gejala jiwa siswa maka guru mampu menerapkan dan melakukan tindakan yang sesuai dalam menentukan metode pembelajaran.
Penggunaan metode pembelajaran sebaiknya juga disesuaikan dengan konsep pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa. Ketepatan penggunaan metode belum cukup untuk membuat siswa termotivasi mempelajari matematika. Dibutuhkan kreatifitas guru agar mampu menciptakan cara belajar yang baru dan menyenangkan dalam proses belajar mengajar. Adanya inovasi serta metode baru yang digunakan oleh guru dapat membuat siswa selalu merasa tertarik untuk mengikuti kegiatan belajar tersebut. Kalau siswa sudah termotivasi belajar maka tujuan dan usaha untuk mencapai keberhasilan belajar pun dapat tercapai.
Banyak metode pembelajaran yang bisa digunakan misalnya metode ceramah, ceramah plus, diskusi, demonstrasi, resitasi, belajar beregu, sesama teman, metode pemecahan masalah, metode bagian, metode tanya jawab, pemberian tugas, latihan, discovery, permainan, inquiry dll.
Sebagai contoh salah satu penggunaan metode pembelajaran misalnya dalam pembahasan mengenai jaring-jaring kubus. Kubus merupakan benda dalam ruang berdimensi tiga sehingga siswa memerlukan alat peraga agar mampu memahami konsep dengan baik. Namun pada kenyataannya siswa hanya diajari melalui ceramah guru atau metode lain yang notabene berada dalam ruang berdimensi dua. Guru hanya menjelaskan dan menggambarkan di papan tulis dan siswa menyalinnya dalam buku tulis mereka. Tentu saja hal tersebut dapat membuat siswa mengalami kesulitan memahami konsep jaring-jaring kubus yang sesungguhnya. Siswa juga dapat merasa cepat bosan karena mereka mempelajari sesuatu yang bersifat abstrak.
Untuk memudahkan pemahaman siswa tentang jaring-jaring kubus dan untuk membuat siswa agar tidak bosan dengan penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh guru maka dibuat suatu metode dalam mengajar yang menyenangkan. Misalnya saja siswa dibagi-bagi dalam kelompok. Tiap kelompok terdiri dari empat sampai lima orang siswa. Lalu kemudian guru memberikan kertas berbentuk persegi sebanyak dua belas pada tiap kelompok. Dari keenam kertas tersebut siswa disuruh merangkainya menjadi bentuk bebas sehingga terbentuk dua jaring-jaring. Tiap kelompok disuruh menempel jaring-jaring tersebut di papan tulis dengan selotip. Lalu secara klasikal guru membahas jaring-jaring mana yang dapat dibentuk kubus. Jaring-jaring yang tidak dapat membentuk kubus kemudian dieliminasi sehingga tinggal jaring-jaring kubus di papan tulis. Dari jaring-jaring kubus tersebut siswa diminta mengurutkan dari jaring-jaring yang paling sederhana menuju pada jaring-jaring yang lebih sulit. Demikian seterusnya sehingga siswa mampu memahami konsep jaring-jaring kubus.
Contoh di atas merupakan cara yang asyik dan menyenangkan karena siswa tidak merasa tertekan dalam suasana belajar yang harus selalu sedia buku tulis untuk mencatat. Tetapi sebaliknya, siswa merasa metode tersebut seperti permainan. Dengan kata lain belajar sambil bermain lebih dapat membuat siswa mengikuti pelajaran dengan santai tapi tetap tidak melenceng dari konsep yang sedang diajarkan. Contoh metode tersebut dapat membuat siswa termotivasi sehingga proses belajar mengajar pun dapat lebih optimal dan tujuan pembelajaran pun dapat tercapai.

Tidak ada komentar: